Past, Present and Future

Philosophy No Comments »

Makassar, 23 Nopember 2008, 09:40 (GMT+8)

Melihat kondisi ekonomi indonesia terakhir yang mendekati krisis saat ini, sungguh menarik.  Beberapa mulai membandingkan kondisi tahun ini dengan kondisi tahun 1998. Banyak yang mulai melihat ke masa lalu dan berharap kondisinya saat ini bisa diprediksi. Namun pertanyaannya apakah masa lalu bisa dijadikan acuan untuk masa yang akan datang ?

Bila anda menanyakan hal ini maka akan muncul 2 kelompok yaitu ya dan tidak. Salah satu komentar dari kelompok “tidak ” yang menurut saya berkesan menjawab:

“Bila masa lalu bisa sama dijadikan acuan masa kini maka para pustakawan atau ahli sejarah lah yang akan menjadi orang kaya”

Sementara komentar dari kelompok “ya” mengatakan:

“Apa yang anda lakukan dimasa lalu, bukankah membentuk anda di saat ini”

Melihat dua argumentasi ini saya tersenyum, mereka berdua sama benarnya kan? Kelihatannya sih bertentangan namun sesungguhnya anda akan melihat jawabannya saat saya memberikan rumusnya. Rumus untuk memprediksi masa depan :

Masa depan = Akibat Tindakan Masa lalu + Akibat Tindakan Masa kini

Coba bandingkan rumus ini dengan kedua pernyataan yang bertentangan tersebut. Apakah anda melihat sesuatu?  Bila belum jelas coba simak kisah berikut:

Si A selama 10 tahun hidupnya adalah preman pasar bertato  yang suka memeras orang di sekitar lingkungannya, semua orang membencinya. Suatu hari dalam sebuah operasi kepolisian dia tertangkap dan dipenjara selama 1 tahun. Setelah keluar dia ingin bertobat berusaha untuk berubah.

Hambatan pertama muncul dari :

1. Rekan Preman profesional bertato lainnya yang mendorongnya agar kembali bersama mereka

2. Warga yang masih membencinya

3. Kurangnya pengalaman dan keterampilan untuk memulai usaha

4. Rusaknya reputasi dia karena pernah dipenjara, sehingga sulit di terima sebagai karyawan di perusahaan besar

5. Bahkan Tato yang yang tertinggal di lengannya pun bisa menjadi masalah saat orang lain melihatnya dengan ketakutan atau mencibir.

Bisa lihat akibat dari masa lalunya ?  Lalu sekarang apa yang yang harus dia lakukan ? Tindakan apa yang harus diambil?

Bila dia memutuskan kembali ke nostalgia lama  jadi Preman pasar dan bergabung dengan dunia hitam lagi, maka dengan mudah diprediksi bahwa suatu hari di masa depan, dia akan ada di penjara lagi lebih lama. Maka saat itu orang menyebut kalo dia ditakdirkan jadi preman hehe…

Namun bila dia berusaha untuk mencari penghidupan tanpa melanggar hukum apa yang terjadi? awalnya semua akibat dari masa lalu akan mulai menghambat dia, akan berusaha seolah mengejar untuk menarik dia kembali seperti ada “Takdir” yang menghalangi dia berubah.”Takdir” itulah akibat masa lalu yang tidak mungkin dia hindari

Namun saat Si A bertahan dan teguh, berusaha untuk beberapa waktu disertai perubahan sikap dan perilaku misalnya Si A jadi ramah dan suka menolong. Maka keajaiban akan terjadi, akibat masa lalu akan mulai  dinetralisir, orang awalnya benci perlahan jadi netral dan akhirnya mulai menyukainya dan seiring waktu, siapa yang tahu bila dia bisa menjadi orang yang dihormati dan dihargai bahkan jadi anggota DPR (walau pamor anggota DPR sedang rusak saat ini) ?

Bisa melihat akibat tindakan masa kini terhadap masa akan datang ? Masa lalu sudah berlalu dan tidak mungkin dirubah, akibatnya sulit dihindari namun dengan perubahan di masa kini masa depan pasti bisa dirubah.

Kembali ke kondisi ekonomi indonesia, apakah masa lalu bisa dijadikan acuan? tentu bisa namun tidak 100% . Karena tindakan saat ini lah yang berperan penting untuk menghadapinya.  Hingga saat saya mengetik Blog ini, beberapa pihak yang pesimis mengatakan bahwa “badai”nya tidak lama lagi datang. Akibat2 dari keserakahan manusia selama 10 tahun terakhir yang  mengarah ke krisis dunia, saat ini segera harus ditanggung.

Bahkan seorang menteri ekonomi sudah mengeluh bahwa Indonesia sudah jadi korban tidak bersalah.  Namun saya tidak setuju karena kondisi sebagai “tidak bersalah” sebab semuai ini tidak lain dari akibat tindakan di masa lalu negara ini sendiri yang membuat dasar ekonominya tergantung pada negara besar. Dimana saat negara besar mulai ambruk maka jadi korban itu pasti resiko negara ini sendiri. Hanya tindakan yang cerdas, cepat dan cermat di saat ini yang akan merubah semua di masa akan datang.

Dan apapun yang terjadike depan krisis ataupun perbaikan : Pergunakanlah masa kini sebaik mungkin dan tegarlah mengadapi akibat tindakan sendiri di masa lalu

Back

Philosophy No Comments »

“Wow sudah setahun tidak nulis blogs, akhirnya nongol lagi tulisan mu Rif !!!” Hmm mungkin ini lah komentar orang yang menyukai blogs saya (Sok mode on) ,
btw memangnya ada orang yang menggemari blogs saya ? (sok mode off, depresi mode on) qqqqq…..Apapun kebenarannya digemari atau tidak demikianlah adanya dan aku harus thanks to David my friend, commentnya seolah memanggil aku menulis kembali blogs ini.

Selama setahun lebih ini banyak yang terjadi dan berubah, mulai dari sudah ada pacar (akhirnyaa…… hehe..), kunjungan ke 4 negara di eropa, suka duka di dunia kerja, my Pursuit of HappYness(yang belum nonton film ini pasti tidak mengerti alasan salah eja ini)  dan banyak lagi. Kelak akan saya ceritakan hal-hal yang berkesan tersebut namun tidak sekaligus.

Sesungguhnya apa alasan saya berhenti menulis blogs? Saya telah punya jawabannya sejak 1 tahun yang lalu, namun saat melihat koran dan berita sibuk memberitakan terpuruknya Bursa Efek Indonesia, saya pun sadar merevisi jawaban itu dan mencari jawaban sebenarnya. Lho apa hubungannya dengan blog dengan Bursa Saham?  lagian blog saya bukan tentang saham ?  hehe…. yup tidak ada hubungannya namun Bursa Efek Indonesia ini mengingatkan saya pada namanya dahulu yaitu Bursa Efek Jakarta disingkat BEJ.

BEJ ini  juga singkatan dari perilaku yang sudah trend sejak lama di masyarakat dunia. Inilah  si BEJ:

  1. Blame (B) atau menyalahkan, tahu aja setiap hari manusia sibuk mencari “kambing hitam” untuk “lari” dari masalah mereka hehe…
  2. Excuse (E) atau alasan, Alasan yang dimaksud ini adalah yang di buat-buat  atau dicari-cari, anda bisa menjadi pengarang yang hebat dengan setiap hari melakukan hal ini.
  3. Justification (J) atau pembenaran, mengapa kita mencari alasan ? hal ini adalah cara membenarkan perilaku kita, siapa yang suka menjadi orang yang salah ?

Bersikap BEJ itu wajar dan bagus juga bagi orang yang sedang dalam tekanan situasi, dan tindakan populer ini masuk akal loh untuk membantu mengurangi jumlah orang bunuh diri dan penghuni rumah sakit jiwa.  Mengapa ? Coba anda bisa bayangkan bila saat seorang Cowok cintanya ditolak, lalu saat ditolak dia menanggung semua beban dengan menyalahkan dirinya “memang aku jelek, bodoh,  tidak mampu, memang… “. Sudah mengalami sakitnya ditolak masih menanggung beban dari menyalahkan diri sendiri, maka lompat dari gedung tinggi itu hal yang masuk akal buat dia saat itu hehe… Namun bila dia mencoba menyalahkan (Blame), contoh “memang dia matre, dia pasti bodoh karena tidak bisa melihat hal baik dari aku “.  Dia cari alasan (Excuse), contoh “aku sudah lakukan yang terbaik namun dia tidak menghargai sedikitpun, juga dia sifatnya buruk” dan dia membenarkan (Justification), contoh ” karena itu beruntung aku ditolak “.Hehe… diijamin perasaan akan jadi lebih baik.

NAMUN untuk jangka panjang ini bukanlah strategi yang bagus, kita tidak mungkin terus menerus BEJ. Kenapa ? karena BEJ hanya salah satu strategi otak untuk menunda beban stress sementara, dan setelah itu anda harus menaggung stress tersebut kembali beserta konsekuensi dari BEJ. BEJ secara terus menerus akan membuat seseorang terus lari dari tanggungjawab dan beban.

Hal ini berbahaya bila sumber masalah datang dari dalam diri kita sendiri, karena selain masalahnya tidak akan hilang dan bertambah besar, kita pun sudah tidak berdaya untuk merubah diri karena sudah dilemahkan BEJ, kita kehilangan tanggungjawab yang mendorong kita berubah lebih baik. Contoh dalam kasus si Cowok yang ditolak, bila ternyata sumber penolakan itu sesungguhnya karena perilaku yang buruk, maka dia bisa saja terus BEJ untuk memperbaiki perasaannya. Namun hal ini akan membuat perilakunya semakin buruk dan hanya akan mengalami penolakan yang lebih banyak lagi, dia tidak pernah lagi berpikir untuk merubah diri karena BEJ terhadap orang-orang yang menolaknya. Dengan BEJ anda tidak lebih dari Bursa Efek Indonesia saat ini sedang terpuruk dan secara BEJ mereka menunjuk pasar dunia sebagai biangnya.

BEJ seperti strategi terakhir dari 36 strategi perang China klasik yaitu “mundur”. Dalam perang dimana kondisi moral prajurit sudah down, stok makanan sudah habis,  lawan sudah tidak terbendung, bantuan tidak akan datang, sementara perubahan situasi sudah tidak mungkin, mundur adalah cara terbaik.
Mundur ini bukan berarti kita “chicken” (istilah penakut) atau lari selamanya, namun hanya menunda hingga kondisi kita mantap untuk bertempur lagi. Dan perlu diingat, mundur ditempatkan dalam setrategi nomor buncit(akhir) dari 36 strategi, itu artinya ada 35 strategi yang harus di analisa terlebih dahulu demikian juga BEJ.

Namun apa yang terjadi bila kita terlanjur BEJ ? Selamat anda masih manusia biasa. Itu wajar namun akan lebih baik bila anda berlatih menerima tanggungjawab dengan jujur bila beberapa sumber masalah itu tidak lain dari diri kita sendiri, minimum cara kita melihat yang bermasalah.  Akui, jujur dan terima akibat dari BEJ dengan demikian anda belajar bertanggungjawab dan mampu merubahnya. Seperti otot di badan anda, awalnya anda mungkin cuma bisa menerima sedikit demi sedikit tanggungjawab. Anda merasa sakit seperti otot tubuh yang baru mulai di latih di pusat kebugaran.
Perlahan tapi pasti BEJ akan berkurang saat kita semakin terlatih, seperti otot tubuh kita yang mulai terbentuk dan mengencang saat sering dilatih. Anda pun semakin percaya diri dan lebih menginspirasi banyak orang. Sebaliknya jika anda sering BEJ maka anda akan seperti orang lumpuh yang otot kakinya menyusut karena tidak lagi terpakai yang akhirnya otot itu rusak dan tidak memiliki harapan lagi untuk dipakai lagi sekalipun syaraf gerak orang lumpuh tersebut mampu disambung lagi. Apa yang anda lakukan jika melihat orang yang selalu BEJ?  Kita pasti akan jenuh dan muak bahkan sering meninggalkan orang tersebut.

Melalui blog ini saya juga belajar mengurangi BEJ , kembali ke pertanyaan sebab saya berhenti menulis blog, awalnya saya ingin mengatakan bahwa tidak menulis karena waktunya kurang dan kesibukan terus menerus. Lihatlah saya BEJ, menyalahkan waktu dan kesibukan saya  dan menjadikannya alasan untuk membenarkan saya absen menulis blogs. Setelah saya merenung
sebab saya berhenti tidak lain karena saya memprioritaskan hal lain selain blog. Saya merasa blogs yang saya jadikan dokumentasi dan alat evaluasi ini tidak penting dan buang waktu karena banyak yang lebih baik di luar sana. Oh ya saat mengetik ini sekarang saya menanggung malu dan bersalah karena mengakui BEJ yang sebelumnya saya lakukan (ini juga cara menerima konsekuensi BEJ).

Namun setelah ditimbang-timbang siapa yang tahu kalau sedikit pengetahuan saya ini kelak bisa berguna bagi seseorang. Saya berusaha membuat sebuah blog minimum sebulan sekali :)
Unleash Massively

5 hari

Philosophy No Comments »

GuangZhou, 17 Juli 2007, 21:43

Baru saja kembali dari perjalanan liburan 5 hari ke JiuZaiGou. Rasanya 5 hari ini bukan liburan,  tetapi rangkaian pelajaran tambahan sekaligus evaluasi (recall ulang) atas apa yang telah saya pelajari selama ini. Kurang lebih inilah yang saya pelajari dan evaluasi:

Perjalanan I
Dalam perjalanan ada jalanan yang lurus dan mulus, ada yang bergelombang dan berbatu, ada yang berdebu hebat, bahkan ada yang sempat buat pusing karena berkelok-kelok dan berada di ketinggian.
Refleksi(R): Saya teringat kalau seperti inilah hidup saya ke depan, untuk mencapai tujuan dan cita-cita, jalannya akan mudah atau sulit silih berganti. Sulit ataupun mudah semua pasti berlalu.

Perjalanan II
Dalam perjalanan 12 jam saya bertanya-tanya apakah pengorbanan waktu, uang dan tenaga ini pantas dengan tujuan akhir (JiuZhaiGou). Namun dalam perjalanan,  dengan melihat pemandangan yang luar biasa dari dalam bus semua pikiran itu hilang.
R: Kadang masih dalam proses saja, kita sudah bisa menemukan hal yang luar biasa, tidak ada guna dari keraguan, yang penting teruslah berjalan ke tujuan. Ternyata proses juga bisa membuat kita melupakan tujuan (Pedang bermata dua/double edge sword)

Perjalanan III
Sang Sopir saat mengemudi selalu melihat ke depan, meski sesekali menoleh kaca spion(tidak terus-menerus loh).
R: Hidup akan terus berjalan, sesekali mengingat masa lalu bagus untuk belajar dan introspeksi, berlama-lama dengan masa lalu hanya membuat kita celaka. Keep Moving forward.

Gunung
Saat melihat garis-garis lapisan tanah yang tampak dari gunung yang megah, saya saya terkesima dengan waktu jutaan tahun yang diperlukan untuk memperoleh bentuk itu.
R: Untuk membuat sesuatu yang luar biasa kadang membutuhkan waktu yang lama

Tambang
Melihat lubang tambang di gunung yang tinggi, juga bukit yang sudah tidak terbentuk karena penambangan batu, dan terowongan yang dibuat menembusnya, saya kecewa
R:
-Hasil karya jutaan tahun bisa dirusak dalam hitungan tahun, hari dan jam. -Sungguh sulit menciptakan, sangat mudah merusak dan menghancurkan

Kemarahan
Di suatu tikungan, bus hampir saja menyerempet sebuah mobil. Sang pemilik mobil memaki sang sopir dan terjadi adu mulut, bahkan sopir bus ingin memukul dengan balok, untunglah segera dipisahkan. Setiba di hotel Sang sopir bus terlibat adu mulut dengan pengendara lain karena si pengendara tidak terima jalannya dihalangi bus yang menurunkan penumpang. Saat melihat itu saya tertegun.
R:
-Kemarahan seperti api, Semakin besar dia, semakin mudah dia menghanguskan yang terbakar olehnya dan orang di sekitar.
-Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan  kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir dengan cinta kasih. Inilah hukum abadi (Sang Tathagatha)
-Kemarahan tidak lebih dari wujud rasa takut dan rasa tidak aman (insecurity) dari pikiran yang paling dalam.

Gemuk
Dalam perjalanan seorang teman mengeluh sulitnya menurunkan berat badan.
R:
-Otak bekerja dengan mengidentikkan rasa senang dan rasa sakit. Jauh di dalam sana sesungguhnya dia masih berpikir: makan adalah kesenangan dan  mengendalikan makanan adalah penderitaan, Kesenangan dari makan melebihi kesenangan dari pengakuan orang akan kelangsingannya. Pola pikir ini harus diubah bila dia ingin berubah.
-Mengendalikan mulut sendiri, yang masuk atau keluar, mungkin inilah salah satu rahasia umur panjang dan kebahagiaan

Sampai di Tujuan
Saat tiba di JiuZhaiGou, saya dan teman-teman benar-benar terpana melihat pemandangan alam yang benar-benar alami dan luar biasa. Semua rasa lelah dari perjalanan selama 2 hari hilang begitu saja
R: Saat sudah mencapai tujuan, berapa banyak pengorbanan sudah tidak penting lagi

Jenuh
Setelah lebih setengah hari melihat beberapa kompleks dengan pemandangan gunung, air terjun dan pemandangan alami lainnya, kami memasuki satu kompleks lain dengan pemandangan yang serupa. Saat itu teman saya mengatakan "cukup deh sudah muak"
R:
- Ternyata keindahan yang luar biasa, akan membuat jenuh bila terlalu sering dilihat
- Bisa karena biasa, jenuh dan bosan karena terlalu biasa
- Hukum Gossen I(ekonomi) : Jika pemenuhan suatu kebutuhan dilakukan secara terus menerus, maka kenikmatan atas pemenuhan itu semakin lama akan semakin berkurang hingga akhirnya dicapai titik kepuasan.

Matahari, air, dan gunung
Saat melihat pemandangan yang terdiri dari air, gunung yang luar biasa dan sinar matahari yang menyokong agar semua bisa terlihat, saya pun kagum
R:
-Semangat yang membara seperti matahari, kokoh bagai gunung, pikiran tenang seperti air, siapa yang bisa menghentikan orang seperti ini.
-Kemarau karena matahari, Longsor dari gunung, banjir karena air. Kekuatan besar yang tidak pada tempatnya hanya akan merusak.
-Komposisi yang tepat pasti luar biasa

Belanja I
Saat membeli oleh-oleh di sebuah stand, kami lupa menawar karena sang penjual memasang label harga tetap seperti di supermarket. Saya dan teman menyesal, kami telah ditipu sekitar 16.000 rupiah (konversi ke rupiah). Teman lain yang senang belanja menggerutu karena kami tidak mendengar nasehatnya untuk menawar dulu.
R:
- Kebiasaan kadang bisa menjebak
- Semuanya bisa dinegosiasikan
- Dengarkan sang ahli

Belanja II
Di sebuah perhentian bus, saya menawar sebuah aksesoris gelang, namun transaksi saya batalkan karena ternyata barangnya rusak dan hanya tinggal 1. Sang penjual  menawarkan yang lain namun tidak ada yang menarik. Dia marah dan melempar gelang itu ke arah saya, tapi tidak kena. Dengan tenang saya mengangkat gelang itu lalu mengembalikan ke meja dagangannya, lalu pergi.
R:
- Ikut berbuat kasar, hanya memperlihatkan kebodohan kita sendiri
- Seseorang tidak akan melukai kita bila bukan kita yang membuka pintu lebar-lebar dan mengijinkan dia masuk
- Pembeli adalah Raja, dan saya akan jadi Raja yang bijaksana, juga Raja dari keputusan yang saya ambil

Perjumpaan
Saya dan teman mulai akrab dengan seorang anggota rombongan tour dari guangzhou, lalu saat malam hari berjalan-jalan bersama sejenak. Dia mengatakan "Perjumpaan adalah jodoh/takdir" karena begitu banyak orang mengapa harus anda yang ditemui. Mendengar itu saya mengangguk-angguk.
R: Perjumpaan kadang hanya sebentar, kenapa harus melewatkan kesempatan untuk jadi teman seumur hidup?

Ketidakkekalan
Malam sebelum tidur saya sempat bercakap-cakap tentang kondisi agama
Buddha. Saya prihatin dengan penyimpangan selama 2500 tahun ini, muncul
banyak sekte dan penambahan dan pengurangan ajaran, hingga sulit
membuktikan ajaran ini asli atau tidak.  Namun saat mengingat prediksi
dari Sang Buddha bahwa ajaran ini akan disimpangkan dan dilupakan, lalu
melihat ke kondisi agama lain yang juga mulai terbagi-bagi dalam
beberapa aliran, saya sedikit tenang bergumam " Annica"
R:
-Sabbe Sankhara Annica= Semua bentukan (hal yang punya penyebab, terdiri dari perpaduan
unsur, dapat di bagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil, punya bagian yang saling mendukung satu dengan yang lain)  tidak kekal
dan terus berubah (Buddha).
- Seperti matahari yang terbit, meninggi dan terbenam, begitu pula nasib semua bentukan. Muncul, berproses lalu musnah

Rejeki
Setelah makan malam lumayan banyak, sebelum tidur si teman baru mengunjungi kamar membawa semangka. Mengajak kami menghabiskannya. Manis, namun perut kami terlanjur kenyang. Tak bisa menolak, saat itu kami memakannya dengan terpaksa dan kewalahan.
R:
- Rejeki disaat yang salah, bisa jadi musibah
- Salah satu kata yang paling sulit dikatakan pada teman adalah "Tidak"

Takut
Saat dalam perjalanan pulang di pesawat, pesawat agak berguncang. Saya iseng berbicara, betapa takutnya saya dulu saat pesawat yang saya tumpangi sulit mendarat karena cuaca buruk, bahkan sempat terasa seperti terjun bebas, sambil bertanya-tanya apakah saya masih punya  ketakutan yang sama bila itu terjadi. Kurang lebih 40 menit kemudian kejadian "terjun bebas" itu terjadi lagi, saya kaget, namun tidak lama tenang kembali.
R: Mungkin rasa takut sudah hilang, tapi kaget pasti ada untuk yang tidak siap

Perpisahan
Saat semua selesai dan kami semua harus berpisah, muncul satu perasaan tidak enak lagi
R:
- Pertemuan memiliki konsekuensi berpisah. Menerima  memiliki konsekuensi kehilangan. Sesuatu wajar memiliki konsekuensinya masing-masing

Mungkin inilah yang saya pelajari dan evaluasi ulang dalam 5 hari ini semoga berguna.

Tidak maksimal

Philosophy 2 Comments »

Guangzhou Minggu, 24 Februari 2007

10:15
"Tidak maksimal" mungkin inilah kata yang pantas kinerja saya hari ini. Meski kegiatan volley yang menjadi tanggungjawab saya pagi hingga siang sudah selesai. Ada rasa lega, tapi bercampur rasa tidak puas. Kenapa? Karena rasanya koq saya tidak menggunakan segenap tenaga hari ini. Saya bisa lebih dari ini, pikir saya.

Beberapa hal yang saya perkirakan sejak hari awal benar-benar terjadi. Lapangan yang ada dua cuma bisa dipergunakan satu, karena peserta merasa situasi lapangan satunya tidak bagus. Meski alasannya karena lapangan jelek dan bukan karena cuaca. Akhirnya jadwal selesai benar-benar melewati batas waktu. Selain itu keterlambatan dan perubahan nama pemain memang jadi hal yang sudah diperkirakan.

Yang membuat saya heran, dengan banyak hal yang sudah diprediksi sejak awal, saya mendadak seperti orang yang tidak menduga sama sekali saat menghadapinya tadi, jadi panik. Lalu saat melakukan negosiasi perpanjangan waktu pemakaian lapangan seperti patung saja, saat melihat teman saya bernegosiasi.  Lalu begitu banyak rencana yang saya punyai sehari sebelumnya seperti tidak bisa dieksekusi saat berhadapan dengan ketidaksetujuan peserta. Dan anehnya saya seperti tidak bisa ngotot ama peserta bahwa harus gini, kalo tidak maka begitu. Dan yang tadi terjadi memang yang begitu hehe…. Ada apa ya ? rasanya aneh? seperti… ngak tau ada apa gitu.

Entah apa yang menghentikan saya, apakah takut sama peserta, atau ragu-ragu atau bahkan tidak percaya diri karena merasa kurang pengalaman dalam hal ini. Yang jelas ini akan jadi evaluasi saya. Apakah saya sedang mengalami kemuduran? Sedang tidak mood aja ? kecapekan karena hari sebelumnya seharian membantu panitia basket lanjut survei lapangan volly, atau sedang masuk ke bidang yang salah hehe… lucu..lucu… Saya merasa seperti seorang amatir, dan dalam hal ini saya memang layak menyandang gelar ini.

Hmm… dari sini saya baru ingat, memang benar apa yang dikatakan dalam suatu kisah. Saat berhadapan dengan seseorang jangan takut meski kelihatan dia lebih baik dan lebih hebat dari kamu. Sebab ada kalanya dia tidak bisa menggunakan segenap kemampuannya, walau sebenarnya dia bisa lebih dari itu. Entah apapun sebabnya, bila saatnya tepat, kamu bisa mengalahkan dia dengan mudah. Mungkin ini yang jadi catatan saya untuk selanjutnya, untuk senantiasa menggunakan kemampuan secara maksimal. Supaya kelak saya tidak dihabisi oleh orang-orang yang belum waktunya bersaing menghadapi saya.

Oh ya masih ada satu catatan terakhir lepas dari kinerja tidak maksimal ini :
Lepas dari kekurangan hari ini dan beberapa peristiwa kecil di luar prediksi. Ada satu peristiwa menarik tidak diduga. Saat dua regu yang seharusnya memperebutkan juara tiga akan berhadapan, mereka mengeluhkan lapangan yang jelek juga cuaca yang terik. Ini terpaksa karena lapangan yang lebih baik telah habis waktu pakainya karena jadwal molor.

Saat saya sudah pasrah dan siap menjadi "penangkal petir" menghadapi semua cemooh dan kritik, mereka malah sambil bercanda melakukan deal (kesepakatan). Mereka ingin tanpa bertanding, hadiah langsung buat juara tiga dibagi bersama. Bahkan saat akan mengajukan nama untuk undian berhadiah, mereka melakukan hompimpa. Melihat suasana akrab dan kekeluargaan itu, saya jadi geli, inilah tujuan dari begitu banyak rangkaian acara hingga kegiatan hari ini, yaitu keakraban dan kebersamaan. Saat melihat itu, tidak ada kerakusan dan ketamakan, yang ada hanya sikap dewasa meski caranya kekanak-kanakan (hompimpa ni yee…).

Jadi bingung juga dengan kondisi yang tidak maksimal, pertandingan tidak selesai sesuai jadwal,  lapangan cadangan membuat peserta kehilangan selera bermain, satu pertandingan gagal dilaksanakan. Justru karena hal yang serba kurang itu, saya menemukan indikator. Indikator bahwa tujuan kegiatan ini tercapai. Hanya dengan peristiwa menggelikan itu.

Tepat setelah peristiwa itu berakhir, justru terjadi peristiwa lain lagi. Seorang teman panitia bersitegang dengan seorang supporter dikarenakan masalah pertandingan cabang lain minggu lalu.  Penyebabnya sederhana, si supporter masih tidak terima dengan perlakuan rekan saya saat itu, meski sudah minta maaf. Hingga akhir perselisihan itu mereka masih belum menemukan jalan keluar, bahkan saya menangkap kata makian. Pertandingan minggu lalu, semua diorganisasi dengan sangat rapi oleh rekan saya ini. Saya sampai merasa bukan apa-apa, saat membandingkan kinerja saya dengan kinerjanya. Tujuannya tercapai juga, tapi masih menyisakan hal "gantung" seperti ini.

Kinerja tidak maksimal, tapi tujuan tercapai? Kinerja sangat bagus, tujuan tercapai tapi menyisakan pertentangan?
Sebabnya ? Beruntungkah ? Sialkah ? atau ada sesuatu yang lain ? ckckck…. ini tambahan catatan baru buat saya.  Waduh masih harus belajar lebih banyak lagi nih.

Hari ini saya belajar dua hal

Uncertainty (Ketidakpastian)

Philosophy 1 Comment »

Guangzhou, 22 Juni 2007, 21:53
Sore tadi, saya sedang duduk kebingungan menatap buku catatan persiapan
event volly. Saya bertanggungjawab atas kegiatan itu.
Seorang teman sambil tersenyum menepuk-nepuk punggung saya, lalu
beberapa menit kemudian seorang teman lain menyeletuk muka saya koq
"gitu"? Saya mendadak sadar kalo sedang stress dan  semua
terpancar dari ekspresi saya.

Yup saya sedang kebingungan, acara yang tinggal 1 hari lagi , tapi
jumlah tim yang akan mengikuti belum sesuai harapan. Sambil menatap
catatan, saya sesekali mengingat-ingat, lalu menelpon orang yang
kira-kira bisa melengkapi jumlah tim. Selain itu alat permainan belum
saya peroleh, tempat masih perlu pengecekan ulang sekali lagi. Saya
merasa tidak tenang. Tepatnya saya sedang berada dalam situasi "Tidak
Pasti".

"Tidak Pasti" inilah situasi yang paling saya tidak senangi. Dalam
ketidakpastian ada pesimisme, keraguan, ketakutan, kuatir dan bingung
namun beberapa detik kemudian bisa berubah jadi optimisme, keberanian,
yakin dan harapan, lalu bisa berubah lagi kembali ke kondisi semula.
Semua berubah dengan cepat sesuai dengan situasi yang muncul. Gelap,
sedikit terang, redup lalu gelap lagi lalu terang lagi. Emosi dan
pikiran seperti terombang-ambing, terkuras dan capek.

Penyebab situasi "tidak pasti " ini biasanya adalah belum ada jalan
keluar untuk mencapai "apa yang saya mau". Seperti terjebak di
terowongan gelap, kadang melihat ada cahaya, namun ternyata cahaya
lampu, bukan cahaya dari jalan keluar.
Keadaan ini jadi parah oleh keingin saya untuk cepat-cepat keluar dari
kondisi ini. Semakin banyak jalan buntu dalam terowongan, semakin panik
saya.  Saya ingin menganalisa semua kemungkinan dan bahkan mencoba
menabrak dinding "terowongan". Sungguh bodoh dan menguras tenaga.

Saat menyadari ini saya menenangkan diri. Berhenti sejenak dan melepas
semua kerakusan saya untuk 100% mengendalikan situasi. Juga keinginan
untuk secepatnya keluar dari sini. Mengingat-ingat masa lalu saya
sempat menghadapi situasi serupa. Saat  saya  pertama datang ke guang
zhou saya sempat terombang-ambing selama 2 minggu karena masalah visa
masuk(ijin tinggal di luar negri). Saya meminta bantuan siapa saja yang
saya kenal hingga pihak sekolah namun buntu. Dan anda tau,  semua
solusinya saya dapat saat makan siang di kantin, hanya ngobrol 10
menit dengan dua teman baru. Ya, jalan keluar atau petunjuknya biasa datang di
tempat, waktu bahkan oleh orang yang tidak di duga. Yang penting tidak
boleh diam sambil meratap putus asa, harus dengan tenang terus bergerak
dan berjalan maju mencari. Kuncinya di usaha dan relasi anda (orang yang
anda kenal) .

Sampai saat mengetik blogs ini saya pun rasa "tidak pasti" itu masih
ada. Namun saya sudah lebih tenang dan optimis bahwa jalan keluar pasti
ada. Harus dengan tegap berdiri, angkat kepala dan percaya diri. Sudah
kesekian kali saya menghadapi ketidakpastian dan masalah. Namun hari
ini saya masih bisa hidup, bertahan, bahkan semakin kuat. Kelak saya
bakal lebih banyak menghadapi "ketidakpastian". Karena inilah hidup, banyak yang tidak pasti.  Namun satu hal yang
saya yakini, semua pasti berlalu dan dari "terowongan gelap"ini pasti
ada jalan keluar, bila perlu saya akan menggali jalannya hehe…..  Ya
dan saat saya keluar dari terowongan ini, saya akan semakin "kuat"
lagi, lagi dan lagi……  ^^

Cool, Calm, Confidence.

Sudut Pandang

Philosophy No Comments »

Guang zhou 08-06-2007, 23:29

Bila kita melihat ke sekeliling kita, sering kita temukan konflik,
pertikaian, pertentangan. Alasan untuk membuat keributan itu apa sih?
mulai dari hal sepele seperti tempat makan bersama, sedikit salah paham sampai
yang agak berat seperti politik dan agama.

Tapi apakah anda tau kira-kira apa sebabnya utamanya?  Mungkin kisah
ini bisa menjelaskannya, sebuah kisah yang mungkin pernah anda dengar
tapi tidak sadar pesan yang diberikan sangat "dalam". Kisah yang telah
banyak dimodifikasi namun tetap mampu memberikan pesan yang serupa.

Dari penelusuran sekilas, saya menemukan sumber dari kisah indah ini
ada dua yang pertama adalah "Cheng yu Gu shi", pepatah Tiongkok yang
sudah diceritakan secara turun-temurun selama beberapa generasi. Sumber kedua adalah Tripitaka
Buddhis dalam bahasa Pali (India kuno) yang usianya lebih dari 2500
tahun. Siapa yang meng-copy siapa, tidak lagi penting, yang utama
adalah pesannya.

Inilah kisah "orang buta memegang gajah" yang beberapa tahun lalu telah membuat pikiran saya mulai "terbuka":

Alkisah di sebuah negara penduduknya tidak pernah melihat ataupun tahu
tentang gajah. Suatu hari sang raja memperoleh hadiah seekor gajah dan
beberapa orang buta dari negara itu penasaran, mau tau "gajah itu
seperti apa?". Setelah diijinkan, mereka secara terpisah memegang
bagian badan gajah yang berbeda. Setelah selesai, orang-orang buta
mulai membuat kesimpulan sendiri tentang gajah. yang memegang belalai
mengatakan gajah itu seperti ular phyton, yang memegang kaki mengklaim
gajah seperti pilar. Yang memegang kuping mengklaim gajah itu tipis
seperti karpet. Yang memegang ekor mengatakan gajah seperti tali.
Akhirnya yang memegang badan mengklaim gajah seperti dinding besar.
Demikianlah mereka berkeras pada kesimpulan mereka masing-masing dan
berakhir dengan keributan dan perkelahian. Sang raja dan orang lain yang melihat
hal itu pun tertawa.

Anda pun mungkin merasa semua orang buta itu konyol. Namun apa anda
sadar dalam kehidupan sehari-hari kita sering tidak lain menjadi salah
satu dari orang buta itu? Ngak percaya? Pasti anda mengatakan "hei saya
tidak buta lho" hehe.. saya tidak mengatakan anda buta cuma
seperti. Kenapa?

Saat mengenali sesuatu masalah atau situasi yang besar, kita sering
hanya terbatas pada cara lihat (persepsi/sudut pandang) kita. Sudut Pandang yang sudah diprogramkan oleh lingkungan kita sejak kecil. Akibatnya kita seolah-olah seperti orang buta yang hanya bisa meraba
satu bagian gajah, Tidak seperti orang berpenglihatan baik yang bisa
mengenali gajah dengan lengkap. Kita sebenarnya hanya tahu sebagian kecil saja dan hanya sebatas itu saja.

Seperti orang buta yang memegang satu bagian gajah, dengan pengetahuan yang tidak lengkap. Kita bisa merasa mantap di sana
dengan bukti-bukti kita, yakin dan merasa diri benar, bahkan membuat
keyakinan itu sebagai yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidak lama
persepsi itu sudah jadi "ego" anda. Atau dengan kata lain persepsi anda
adalah anda sendiri.

Lalu saat seseorang dengan persepsinya sendiri datang dan mengatakan anda salah. Persepsi yang
sudah menjadi ego atau "saya"nya anda terancam. Anda merasa di serang,
mengeluarkan semua "peluru" anda untuk membalas. Menyerang apa saja
agar diakui benar atau sekedar memaksa, mengancam orang menerima sudut pandang anda. Akhirnya pertentangan yang awalnya beda sudut pandang, menjadi sesuatu yang
sifatnya prinsip atau ide saja, lalu berubah jadi penyerangan karakter (contoh
ejekan/cemoohan yang menyerang karakter : Anda bodoh, bego, sesat, setan). Timbul pertikaian dan permusuhan dengan alasan yang
lebih banyak. Paling buruk lagi saat dalam pertikaian itu masing-masing
pihak mulai mengumpulkan pendukung. Muncul keributan massal, korban pun
berjatuhan, kadang tidak bersalah juga jadi korban. Ckckck……

Bayangkan dari beda ide, bisa jadi penyerangan karakter, lalu berakhir
dengan pertempuran, dendam kesumat dan korban sia-sia, tragis…. Lalu
? Apakah anda sama konyolnya dengan orang-orang buta itu? Pasti !

Apakah ada jalan keluar dari kondisi ini? hmm… ada! , bila semua
orang buta itu, satu dengan yang lain diberikan kesempatan untuk
bertukar memegang bagian gajah lain. Maka mereka mulai menyadari bahwa
yang mereka ketahui kurang lengkap. Orang-orang buta ini akan mulai
mengenali gajah. Ya, bila kita mau melihat dari cara orang lain melihat
dan orang lain, atau  Istilah lainnya "berdiri di sepatu orang lain".

Masalahnya cuma satu, banyak orang buta yang punya sifat "keras
kepala". Karena terlalu yakin pada apa yang kita pegang teguh.
Lalu menutup diri rapat-rapat dari kemungkinan lain. Anda bisa
bayangkan bila semua orang buta dalam kisah itu keras kepala, sekalipun ada orang
yang penglihatannya baik dan menjelaskan seperti apa gajah itu pada
mereka. Orang buta itu akan mengatakan yang bisa melihat itu sedang
melebih-lebihkan, dia salah dan mereka tetap benar. Bahkan saat dibawa
untuk memegang bagian gajah yang lain, orang buta itu akan ngotot bahwa
gajahnya ditukar dengan hewan lain . Orang  buta seperti ini, selain
matanya buta, pikirannya bebal, hehe.. gawat

Dari kisah ini anda bisa melihat banyak jawaban atas perselisihan di
muka bumi. Jangan-jangan sebagian besar perselisihan itu tidak lain
karena semua pihak seperti orang buta yang hanya tahu sebagian, tetapi
mengklaim mereka tahu semuanya.
Kalo dipikir, biasanya semua benar, tapi benar sedikit/setengah, atau setidaknya benar
dari sudut pandang mereka. Parahnya mereka buta dan keras kepala,
akhirnya ? anda liat sendiri. Perang, permusuhan, kehancuran, kebencian.

Nah untuk tantangan bagi anda. Bila anda meyakini sesuatu sebagai
kebenaran, beranikah anda membuktikan kebenaran itu lengkap. Melihatnya
dari beberapa persepsi (sudut pandang) yang berbeda. Saya tahu kadang
sesuatu itu terlalu besar untuk dianalisa semua. Tapi anda bisa
mengambil beberapa sudut pandang utama sebagai pembanding.  Saat anda
berani melihat dari berbagai sudut, lalu seseorang muncul dan
mengatakan anda salah. Tanpa marah dan terancam, Anda dengan tenang bertanya " Saya pegang anu-nya gajah, kamu pegang bagian apanya ?" (peringatan: penafsiran ngawur pada kalimat terakhir ini adalah persepsi yang menafsirkan, anda bisa melihat bagaimana perbedaan persepsi  bisa muncul hanya dari satu kata "anu", hehe… )

Apakah anda orang buta yang bijaksana yang mau mengenali bagian gajah lain, atau cuma orang buta yang keras kepala ? Ataukah anda yang bisa melihat secara lengkap dan sempurna, anda yang punya jawabannya.

Sang Diplomat

Philosophy No Comments »

GuangZhou, 04 Juni 2007, 21:00

Dua hari lalu saya beruntung punya kesempatan untuk hadir di
Wisma Konsulat Jendral Republik Indonesia (Konjen RI) GuangZhou. Kesempatan menarik,
meski harus menunggu kurang lebih 3 jam di MC Donald dekat tempat berangkat (kantor
Konjen RI). Maklum paginya saya  dengan teman-teman
Organisasi Buddhist Maggala (OBM) Guangzhou rutin berkumpul di Kantor Konjen. Mau pulang terus balik lagi yang makan waktu
2 jam,  rasanya buang waktu dan biaya.

Setelah menunggu tiga jam, sialnya lanjut lagi menunggu kurang
lebih satu jam di Kantor Konjen. Saya benar-benar  lupa, meski di Tiongkok, janji untuk kumpul
itu dilakukan dengan orang-orang Indonesia yang trendnya pakai “jam karet” atau
tidak tepat waktu  hehe….. (maaf sindiran ini untuk kita semua
yang hobi ngaret).  Setelah penantian
panjang akhirnya berangkat juga. “Saya akan belajar apa lagi ?” itu pertanyaan
saya dalam hati.

Saya cukup heran saat bertemu dan rapat dengan Bapak
Harimawan, sang Konsulat Jendral beserta Ibu dan stafnya. Baru kali ini saya
berpapasan dengan pejabat pemerintah yang ramah beneran (asli). Tidak seperti
lurah, RT, Koramil, Pemadam Kebakaran, PolSek, PemDa dsb di tempat kerja saya
dulu, yang ramahnya kalau minta atau dikasih duit doank hehe…  Yang jelas saat rapat informal bersama mereka
itu, saya terkesan dengan istilah yang lama tidak saya dengar yaitu “diplomat”.

Diplomat atau istilah lain orang yang mewakili Negara atau
organisasi  yang melakukan
hubungan/relasi. Istilah sederhananya : orang yang kerjanya membuat lebih banyak
teman atau berelasi. Inilah pengenalan sekilas yang saya tangkap.  Satu kerja yang unik, menyenangkan tapi
sungguh tidak mudah. Kenapa ? Menyenangkan bila bisa kenal banyak orang dan
saling bantu, tapi paling sulit untuk berurusan dan mengenali karakter
orang-orang sebanyak itu lebih mendalam, terutama mengingat semua nama mereka,
asal, nama Anak, Cucu, Bapak, Kakek dan Nenek mereka hehe… bercanda.

Dari Sang Diplomat saya melihat keramahan dan kehangatan.
Bayangkan terhadap bawahannya saja sanggup bersikap seperti layaknya teman. Bercanda
dan ngobrol santai tapi tetap punya wibawa. Tidak seperti seorang General
Manager yang saya kenal di sebuah perusahaan, yang sangat ditakuti bawahannya,
sampai setiap dia masuk kantor semua tidak berani memandang hehe….  Selain itu terhadap kami para pelajar dan
teman dari Federasi  Antar Mahasiswa
Indonesia Guangzhou (FAMIG), dia sama  santainya. Di lain kesempatan seorang teman saat
di bertanya “apa sudah terbiasa dengan GuangZhou?” dia dengan santai menjawab
ditugaskan dimana saja harus selalu terbiasa. Lalu di waktu lain dia mengatakan
”Diplomat itu juga pelayan masyarakat ”.

Demikian juga dengan Ibu Harimawan istri dari Bapak Konjen, Saya
sempat mendengar dia berkata “Jangan sungkan-sungkan ini juga rumah kita besama
warga Indonesia”, benar-benar kerendahan hati yang tidak dibuat-buat. Bahkan
saat pulang sang Ibu pun sempat memperlihatkan bagaimana perlakuannya pada
seekor kumbang yang nyasar masuk ke rumah mereka. Dia berpesan “jangan dibunuh
ya”, meski akhirnya sang kumbang sial keinjak seorang teman. Terhadap hewan aja
sudah demikian, terhadap manusia pasti akan lebih lagi, sikap yang akan konsisten.

Saya berhadapan dengan Bapak dan Ibu ini saya benar-benar
tidak merasakan ada yang “palsu”. Kok saya bisa tau ? hehe… kombinasi dari
ekspresi, tekanan suara, nafas, gerak  mata
dan bahasa tubuh merupakan hal yang paling menyenangkan di analisa. Mulut bisa
bohong tapi hati anda tidak dan itu akan tercermin sangat jelas. Lagian sering ketemu yang “palsu”, kenapa tidak bisa mengenali yang “asli” hehehe…

Saat rapat dengan beliau selesai, para siswa secara terpisah
melanjutkan dengan rapat teknis untuk persiapan 17 Agustus. Meski saya belum memiliki
tugas yang penting, karena mau komitmen pada persiapan acara Waisak OBM,  setidaknya saya sudah bertemu dua orang
diplomat. Saya temukan standar seorang  diplomat,
Standar yang akan sangat penting untuk saya
beberapa tahun ke depan. Standar yang akan menambah semua yang telah saya
peroleh beberapa tahun terakhir.

Sekitar jam 9 malam lewat rapat selesai, dan kami pun diantar
pulang. Jadi nostalgia ama masa-masa organisasi mahasiswa saat kuliah dulu
hehe.., Hari ini saya dapat hal baru lagi. 

Saya akhiri dengan sebuah quotes:

Kejujuran, tidak dibuat-buat, tanpa pura-pura , tanpa kepalsuan adalah strategi tertinggi dari semua strategi

Raja dan Kuda

Philosophy No Comments »

Guangzhou, 29 mei 2007, 18:40

"Apa bedanya seorang Raja dan seekor Kuda?  dan jangan coba menjawab dari cara lihat seorang anak kecil !, dimana yang satu manusia berkaki 2 yang lain hewan berkaki 4, coba jawab!" inilah pertanyaan dari sebuah kisah yang cukup berkesan buat saya. Ternyata kita diajak melihat raja dan kuda ini dari segi peran, bukan yang sebenarnya.

Saat saya teringat cuplikan ini, saya teringat ide dari Bapak psikologi Sigmund Freud (anda bisa mencari profil orang ini di internet). Freud membagi Kepribadian manusia menjadi 3 bagian (oops teori dulu ya) , Yaitu :

1. ID (dikenal umum sebagai bawah sadar) yang sudah ada sejak kita lahir yang memastikan semua kebutuhan dasar bahkan kebutuhan selanjutnya setelah kebutuhan dasar kita terpenuhi. Saat kita kecil bila lapar, dingin atau panas akan menangis bukan? ID lah yang mengatur ini. Selain itu ID lah yang paling banyak memberikan partisipasi terhadap karakter, insting, perasaan, sampai emosi (antaranya marah, senang dan takut) seseorang.
2. Ego (umumnya di kenal sebagai kesadaran), Kita mungkin memilikinya sejak umur tiga tahun. Ternyata bila terus hanya mencukupi kebutuhan kita, itu bisa menjadi membuat kita jadi egois dan mendatangkan rasa sakit.  kita tidak boleh melupakan keberadaan orang lain. Maka ego muncul untuk menyeimbangkan kebutuhan ID dengan realitas/kenyataan. Ego adalah sang pengambil keputusan.
3. Superego (umumnya dikenal sebagai nurani dan moral) , Kita memilikinya sekitar umur 5 tahun. Merupakan hasil didikan lingkungan kita, atau ide kita sendiri. Inilah bagian yang memberi kita standar tertinggi, gambaran yang ideal. Yang memutuskan sesuatu itu sebagai benar atau salah.

Dengan munculnya superego maka peran ego bertambah menjadi mengatur memenuhi kebutuhan ID, menyesuaikan diri dengan realitas dan sekaligus tidak mengecewakan si superego. Sungguh kerjaan tidak mudah bagi si ego.

Lalu mana raja dan kudanya, rief ? Sabar… ini penjelasan dari analisa saya sendiri (sudah lepas dari om Freud), Setiap hari ketiga bagian dari kepribadian ini sibuk memenuhi perannya masing-masing. Dalam keseharian manusia ada yang kelihatan baik, atau jahat, masuk akal atau mungkin benar-benar layak disebut gila. Semua tidak lepas dari bagian mana yang menguasai bagian lainnya. Kadang kita realistis, kadang kita seperti binatang serakah dan rakus, tapi kita bisa kelihatan seperti malaikat yang baik hati.

Siapa raja itu dan yang mana kuda itu. Raja tidak lain adalah bagian kepribadian yang mendominasi/menguasai. Sementara kuda adalah yang bagian kepribadian yang dikuasai. Yang menguasai(raja) akan menentukan arah, sementara yang dikuasai (kuda) sesuai dengan kadarnya akan mengikuti kemauan raja, meski tidak 100% meninggalkan peran aslinya.

Saat ID menjadi raja, Ego akan cenderung mengambil keputusan sesuai dengan selera ID, superego kadang bisa dinetralkan dengan membuat alasan yang kelihatan logis padahal itu salah, contoh: kita memutuskan memfitnah orang lain, dengan alasan bahwa orang itu kelak bisa memfitnah kita lebih dahulu, Melakukan hal yang buruk dengan alasan bahwa kita dalam keadaan terdesak dan itu wajar. Saat ID terlalu menguasai kita bisa menjadi orang jahat, serakah atau hanya sekedar orang penakut yang sangat ingin melindungi diri sendiri.

Saat ego mendominasi maka ID pun bisa menghasilkan solusi, superego juga bisa mendukung atau dinetralisir. Misalnya anda sudah bertekad melakukan sesuatu, maka tekad yang besar dari ego bisa mempengaruhi ID dan superego untuk bekerja mengikuti selera ego. Anda bisa melihatnya dari orang optimis dan pesimis, dimana hasil yang mereka peroleh berdasakan pola pikir dan keputusan yang diambil, bila optimis maka ID bisa memberikan alasan mengapa itu akan berhasil dan bila pesimis, ID juga bisa membantu kita memberi alasan. Ego bisa memprogram ulang superego dan ID. Saat ego mendominasi, anda bisa jadi orang yang punya tekad besar atau orang yang hanya ikut arus karena rasa realistis anda.

Bila superego mendominasi, maka kita akan melihat seorang manusia berhati malaikat atau seorang perfectionist. Namun dengan kadar berlebih, maka kita akan melihat orang yang terlalu baik hingga tidak memperhatikan diri sendiri, atau perfectionist yang tidak punya kompromi. Dalam dominasi superego yang berlebih umumnya bila bukan diri sendiri yang terluka, maka orang lain yang terluka, atau bisa saja jadi orang yang terus menyalahkan diri sendiri jika terjadi suatu kesalahan.

Demikianlan ketiga kepribadian ini dapat silih berganti jadi raja dan kuda. Anda cuma bisa menjaga agar hal ini tidak berkembang jadi terlalu ekstrim. Siapa Anda yang saya maksud? Anda adalah yang sedang berpikir saat saya membaca blog ini, adalah Sang Ego, sang pengambil keputusan. Pengen jadi raja atau kuda nih?

Dua setengah

Philosophy No Comments »

Guang zhou, 23 mei 2007 , 0:25

Sudah malam , tapi  belum terlalu ngantuk. Entah kenapa kondisi hati rasanya aneh ada gembira tapi bercampur khawatir. Saya gembira, karena di guang zhou sekarang sudah punya banyak teman. Bahkan punya seorang adik angkat malahan hehe.. dibanding saat pertama datang saya kesepian, cuma seorang diri dan hanya kenal seorang sepupu di sini. Dalam 2.5 bulan punya banyak teman yang bisa diajak bercanda saat makan siang, berdebat diwaktu senggang, jalan bareng, juga saya malah jadi tempat curhat kalo ada beban. Benar-benar menyenangkan.

Yang saya khawatirkan hanya waktu yang terus berjalan, tinggal dua setengah bulan study saya selesai. Sekali lagi saya teringat kondisi di xiamen (http://arief_abadi.blogs.friendster.com/my_blog/2007/01/ada_waktunya_me.html), dimana saya harus berpisah dengan teman-teman saya. Hal yang sama juga akan terjadi di sini. Perasaan tidak enak yang sama akan terulang juga.

Hmm.. inilah hidup, saya tidak bisa hentikan waktu. Ada pertemuan juga perpisahan, timbul dan tenggelam, muncul, memudar lalu akhirnya hilang. Sungguh tidak ada yang kekal. Semakin saya merasa gembira bersama seseorang, semakin sedih dan sakit rasanya saat harus berpisah dengan mereka.

Kadang saya curiga apakah kebahagiaan yang kita peroleh, besar atau kecil, suatu hari pasti harus kita bayar dengan kesedihan yang takarannya sama atau lebih besar saat berpisah. Dan sepertinya hal ini yang harus kita alami dengan segala sesuatu di sekeliling kita juga orang-orang yang kita sayangi. Dipisahkan jarak, kondisi atau kematian. Menyedihkan, sangat menyedihkan. Mungkin inilah wajah asli dari hidup yang sesungguhnya.

Apa boleh buat, yang bisa saya lakukan adalah menikmati saat-saat terakhir ini, melakukan yang terbaik. Masa yang boleh dikatakan masa terakhir saya belajar di belakang bangku sekolah. Masa istirahat saya, dimana saya masih punya waktu senggang untuk merenung.  Dua setengah bulan lagi saat tanggungjawab saya kembalikan di pundak, saat itu saya akan sibuk dan entah berubah jadi apa dalam beberapa puluh tahun ke depan. Saya belum tahu pasti, yang jelas saya akan mengalami lebih banyak pertemuan dan perpisahan, memperoleh dan kehilangan. Inilah realitas menjadi seorang manusia, inilah realitas hidup di dunia. Saya cuma bisa mensyukuri saat ini, Yup saat ini.

Loading preparation 97.5%, 2.5 month left

Kalah Beneran saat Merasa Kalah

Philosophy 2 Comments »

GuangZhou 20 Mei 2007,  00:02

Capek, mungkin itu yang saya rasakan saat mengetik blogs ini. Tapi pengalaman yang baru saja saya dapatkan dalam 8 jam terakhir sebagai panitia keamanan, seolah memberi saya semangat untuk mengetik. Saya baru saja kembali dari kegiatan Indonesia Culture Day(ICD), acara kebudayaan indonesia di guang zhou.

Bagaimana hari ini terjadi, Mulai dari suatu hari teman iseng bertanya apa saya mau jadi penjaga stand dan saya pun mengangguk. Meski tidak tau saya akan berhadapan dengan apa atau dapat apa, namun saya yakin saya akan belajar sesuatu. Dua minggu kemudian, diadakan rapat semua pengurus dimulai dan ternyata tugas saya diganti jadi keamanan. Saya pun oke aja. Hanya saja yang berkesan saat itu saya bertemu Ko Hendra panggilan akrabnya "Komting", senior saya di organisasi mahasiswa dulu. Ternyata dia ketua panitianya, saat itu dia cuma berkata "aku kecemplung lagi kan rief"(masuk organisasi lagi). Saat itu saya cuma berpikir "ngak heran koq"(hehe…).

Minus 2 hari pelaksaanaan, Gladi resik acara pun dilakukan. Karena kesalahan informasi yang diterima teman saya dari tim tari, akhirnya saya pun diajak. Kaget karena lokasinya outdoor, saya sebagai divisi keamanan melihat ancaman keamanan paling berbahaya bukan dari permukaan bumi, tapi dari langit. Apa itu ? namanya hujan. Apalagi listrik merupakan pendukung utama acara mulai dari sound system sampai lighting, begitu analisa saya sebagai mantan "nenek moyang" divisi perlengkapan hehe.. Saya paling benci air saat berurusan dengan alat elektronik. Saya lalu menganalisa dalam "Kepanitian ini lagi mengambil resiko rupanya, ini bulan 5 masih termasuk akhir musim semi dan menurut guru saya di xiamen dulu, musim semi adalah yang paling banyak hujannya dari semua musim". Teringat suatu episode di apprentice, dimana seorang peserta sempat dikritik oleh orang kepercayaan Donald Trump, hanya karena dia tidak memperhatikan ramalan cuaca sehingga acaranya tertunda karena hujan. Kemudian saya iseng bertanya tentang alasan memilih outdoor pada seorang panitia, jawabannya cukup masuk akal dan sudah umum: dana terbatas dan dari tahun lalu memang sudah begitu, lalu tentang hujan mereka sudah mempertimbangkan hanya belum ada solusinya. Hari itu cuaca memang cerah, sehingga  hujan  keliahatannya tidak akan turun. Dengan rekan yang begitu berani, saya pun merasa senang dan ini semakin menarik. Hanya saja sepulang dari gladi, saya sempat kaget saat melihat teman saya dari tim tari yang biasa keliatan tegar, menitikkan air mata. Dia merasa tertekan dan khawatir dengan rekan timnya yang kelihatan ogah-ogahan. Seperti melihat hari hujan…, Mengingat masa lalu, seperti inilah keadaan mendekati hari pelaksanaan.

Minus 1 hari pelaksanaan sore, Langit memang tidak bisa ditebak, udara yang akhir-akhir ini biasanya cerah dan panas, mulai turun hujan sebentar di sertai petir, saat itu saya sedikit kuatir mengecek ke monitor Laptop saya "ramalan cuaca besok juga hujan, semoga salah"

Tiba hari pelaksanaan, hujan dari pagi hingga sore, mulai dari gerimis kecil hingga sedikit deras bergantian. Sambil membantu panitia lain, saya mendengar seorang panitia mulai pesimis dan berkata "sepertinya acara bakal batal". Saya sempat memandang ke arah lain, tampak usaha keras seorang panitia lain untuk membersihkan genangan air di lantai, namun tidak lama genangan itu kembali karena diisi air hujan. "Sia-sia? apa seperti membersihkan genangan air itu, kerja saya sekarang, saya sempat ragu".

Semakin mendekat jam pelaksanaan, hujan sempat reda namun kembali sedikit deras, Saya sempat mendengar seorang anggota band berkata "bila airnya seperti ini band tidak akan tampil". Dan beberapa menit  kemudian saya mendengar pengisi acara berkata band tidak akan tampil. MC pun tampak menyusun ulang susunan acaranya. Suasana sempat kelihatan tegang, saya pun melihat sang ketua tampak sekilas melihat ke langit.

Saat itu saya teringat motto seorang teman yang saya temui di guangzhou
"apapun situasinya selalu optimis, pasti ada hasilnya!" dan itu benar,
saya sudah mencoba beberapa kali  pemikiran dia, sampai hari ini dia belum pernah
salah. Saya pun mencoba Optimis. Saya pun ditugaskan berjaga di belakang panggung sehingga tidak jelas apa yang terjadi di depan panggung. Dibelakang panggung, terdengar percakapan dua orang yang setengah baya dalam bahasa mandarin berkata "hujannya tinggal dikit" seolah-olah mereka tahu sesuatu. Dan benar saja tepat beberapa menit sebelum acara di mulai, hujan betul-betul berhenti ! lalu tidak lama beberapa panitia mulai bergerak memasang alat band, rupaya ada yang berubah pikiran hehe…

Acara pun dimulai dan apa lancar sampai happy ending ?  Ngak juga, sekitar 1 sampai satu setengah jam kemudian hujan rintik mulai turun. Sekilas saya melihat anggota band mengamankan stop kontak listrik alat bandnya. Perhatian saya dialihkan karena menghalangi penonton yang mau menyusup dari belakang, saat melihat kembali tiba-tiba di sekitar alat band sudah menggunakan tenda promosi untuk melindungi. Penonton yang membludak pun membuka payung sambil menonton. Saat itu saya terkesima dengan solusi spontan itu. Dengan itu meski hujan agak deras maka tidak lagi masalah. Saat itu saya pun berpikiran rupanya hujan pun sudah bukan apa-apa, meski sempat melihat seorang penari terpleset karena licin saat berjalan ke pentas, namun itu bukan masalah. Bahkan hujan gerimis seperti dekorasi tambahan untuk acara hari ini. Penonton tetap antusias dan berjubel sampai acara selesai. Semua tampak berjalan lancar, saya pun mulai bisa duduk santai sambil berjaga, meski sempat dibuat bingung oleh anak kecil yang mau menerobos masuk dengan memakai sepeda, juga seorang ibu yang mau nyusup sambil membawa anjingnya yang lumayan besar hehe..

Oh ya satu lagi,  teman saya yang dari tim tari pun tampak gembira saat
pulang tadi, penampilannya memang bagus.  Saya mengingatkan sambil berkata "air matamu kemarin itu tidak sia-sia" dan
dia mengangguk  tersenyum. Air mata (hujan) yang dia teteskan 2 hari
lalu sudah jadi pelangi.

Dari peristiwa ini, saya mulai sadar,sesuatu yang kelihatan sebagai hal yang menghalangi, menyulitkan bahkan akan menghentikan kita, tidak akan bisa membuat kita benar-benar "habis". Melihat tekad dan tanggungjawab dan teman saya yang meski sempat menangis namun terus maju. Atau sedikit sentuhan inovasi seperti penggunaan tenda pas acara berlangsung dan optimisme semua akan berjalan lancar. Tentunya saya tidak mengabaikan faktor menguntungkan seperti kerjasama tim, 1 jam pertama acara dimana hujan berhenti sehingga moral panitia dan pengisi acara naik atau hujan yang turun tidak super deras disertai angin kencang yang bisa membuat penonton lari. Namun keseluruhan saya mulai mengakui bahwa  kita tidak akan benar-benar "kalah" kalo kita belum "merasa kalah". Malam ini, saya belajar sesuatu, Trims kesempatannya Ko Komting, You are really a good leader :)

Saat keadaannya tidak bisa kita rubah kita saja yang berubah, ya ngak ?


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in